Welcome in my blog

Welcome in my blog

Sabtu, 02 Juni 2012

APLIKASI METODE KLIMOGRAM UNTUK BUDIDAYA BUAH MANGGA PADA DI DESA SUSUKAN, JAWA BARAT


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Untuk memahami klimatologi diperlukan pemahaman tentang yaitu atmosfer, cuaca, iklim, mekanisme terbentuknya iklim
Salah satu untuk pemahaman bagaimana untuk mengaplikasikan klimograf ini perlu pemahaman tentang iklim, karena iklim merupakan sebagai komponen lingkungan yang menyediakan sumber cahaya PAR untuk proses fotosintesis, sebagai penyedia CO2, O2, dan air, mempengaruhi kondisi fisika tanah tersebut, dan dapat menyediakan unsur hara yang diperlukan, dan dapat sebagai tempat perkembangan populasi hama dan penyakit tanaman itu sendiri Iklim sangat berkaitan dengan suhu, karena suhu sangat berpengaruh terhadap adaptasi tanaman, proses fotosintesis, dan proses respirasi serta kecepatan tumbuh tanaman.
            Sedangkan manfaat klimatologi pertanian yaitu sebagai berikut :
  1. Seleksi kultivar/spesies/ras ternak yang adaptif di suatu tempat sehingga potensial untuk dibudidayakan.
  2. Memilih lokasi yang kondisi iklimnya sesuai untuk pengembangan suatu kultivar/spesies/ras ternak yang harus diintroduksikan.
  3. Memyngkinkan pengembangan tekhnologi untuk memodifikasikan iklim untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian.
  4. Pengaturan pola tanam dan penyerasian antara iklim dengan aktivitas budidaya pertanian.
Hubungan iklim dengan tanah dapat dilihat dari proses pemupukan tanah dalam jangka panjang oleh iklim/cuaca akan menentukan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah itu sendiri, selain itu struktur dan tekstur tanah, kapasitas menahan hara, air, dan hara itu sendiri didalam tanah.
      Sedangkan hubungan iklim dengan tanaman yaitu dapat menentukan secara aktual tingkat kualitas dan kuantitas produksi tanaman, sehingga dapat menentukan kapasitas atau produktivitas tanaman dalam jangka yang penjang.Sehingga ini dapat dilihat dari pembatas pertumbuhan tanaman terhadap hubungannya dengan iklim yaitu curah hujan dan suhu itu sendiri.
      Suhu dan curah hujan digunakan untuk menentukan growing season. Maka dari itu, bagaimana cara mengintroduksi tanaman kedaerah lain yang berbeda klasifikasi iklimnya yang termasuk curah hujan dan suhu yang sangat menunjukan keanekaragaman yang jelas maka digunakanlah Metode Klimogram.
Ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan metode klimogram jika dilihat dari usahatani yaitu :
  • Pemilihan tanaman mempertimbangkan kondisi iklim,terutama untuk tanaman tahunan perlu pertimbangan rasional.
  • Tanaman semusim disesuaikan dengan ketersediaan kondisi curah hujan (neraca air) dan suhu (di subtropis).
  • Tekhnologi budidaya dan mesin pertanian yang diterpakan
  • Pemilihan tanaman untk diintroduksikan disuatu wilayah berdasarkan kesesuaian adaptasi tanaman tersebut tanaman iklim atau cuaca
  • Pemilihan wilayah yang mempunyai iklim sesuai untuk kebutuhan tanaman
Daerah yang mempunyai kondisi iklim yang cocok untuk suatu tumbuhan sehingga memungkinkan varietas tumbuhan tersebut tumbuh dan berkembang dan melangsungkan regenerasi serta terjamin kelestarian plasma nutfah.

B. Tujuan
            Tujuan dari tugas praktikum ini yaitu untuk mengetahui suatu wilayah yang sebagai sentra produksi tanaman mangga di tiga wilayah yaitu Indramayu, Situbondo, Pasuruan, apakah dapat di intoduksikan dan cocok di wilayah Susukan, kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dengan menggunakan pengaplikasian Metode Klimogram.


TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistematika
Kingdom                     :  Plantae
Divisio                         :  Spermathophyta
Class                            :  Monocotyledonae
Ordo                            :  Anacardiaceales
Family                         :  Anacardiaceae
Genus                          :  Mangifera
Spesies                        :  Mangifera indica L.

B. Botani
            Buah mengga merupakan buah batu (Drupa). Buah ini mempunyai kulit buah yang terdiri dari atas 3 lapisan kulit yaitu :
  • Kulit luar (exocarpium) : tipis manjangat, biasanya licin dan mengkilap.
  • Kulit tengah (mesocarpium) : tebal berdaging dan dapat dimakan.
  • Kulit dalam (endocarpium) : cukup tebal, keras dan berkayu.
Lapisan ini amat kuat dan amat keras seperti batu, karena adanya lapisan inilah buah disebut buah batu. Tanaman membutuhkan kondisi iklim yang cocok (optimum) untuk tumbuh dan berkembang sehingga menghasilkan produksi yang diharapkan. Ada banyak cara untuk menguji atau mencari kesesuaian tanaman dan iklim, diantaranya dengan mengumpulkan data tentang kebutuhan fisiologi tanaman terhadap berbagai faktor lingkungan iklim.
Analisis kesesuaian lainnya adalah dengan menggunakan analogi klimogram dari data empiris. Dasar analisisnya adalah dengan mencari data iklim dari daerah pusat produksi tanaman yang akan dikembangkan. Terutama data iklim yang merupakan faktor pengendali utama bagi pertumbuhan.


HASIL DAN PEMBAHASAN

            Daerah sentra produksi mangga di pulau Jawa,
Bulan
Indramayu
Situbondo
Pasuruan
CH (mm)
T(C)
CH (mm)
T(C)
CH(mm)
T(C)
Januari
337
26,1
348
27,1
370
26,7
Februari
325
27,1
305
27,3
348
28,0
Maret
238
26,8
266
27,8
333
27,3
April
171
27,7
117
27,8
204
28,0
Mei
119
28,2
95
28.0
153
27,8
Juni
22
27,7
45
28,0
70
27,1
Juli
57
28,0
34
27.8
52
26,8
Agustus
38
28,2
18
27,7
28
27,6
September
56
29,0
17
28,1
27
27,9
Oktober
99
29,2
47
29,1
71
28,2
November
176
28,4
120
29,8
167
28,0
Desember
239
28.3
240
28,4
285
27,8
tahunan
1937
27,9
1652
28,0
2108
27,6

Berikut grafik dari ketiga daerah sentra mangga :
Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika, Propinsi Jawa Barat




  1. Daerah yang diintrodusikan yaitu di desa Susukan, Kab. Kuningan Jawa Barat pada tahun 2009 :

Tabel 1.1
Bulan
Susukan
Curah Hujan (mm)
Suhu (0C)
Januari
297
26
Februari
386
26,2
Maret
334
26,8
April
221
27,4
Mei
172
27,5
Juni
90
26,1
Juli
65
26,3
Agustus
43
27,4
September
58
28,9
Oktober
140
29,3
November
222
27,4
Desember
356
27,6


            Jika dilihat dari pembatas pertumbuhan yaitu curah hujan dan suhu di tiga daerah sentra produksi mangga yaitu Indramayu, Situbondo, dan Pasuruan, diintroduksikan ke daerah Susukan, kabupaten Kuningan, Jawa Barat mangga dapat diproduksikan di daerah susukan ini. Dikarenakan bentuk grafik antara ketiga daerah sentra produksi mangga dengan daerah susukan hampir sama, maka artinya produksi mangga dapat dibudidayakan di daerah Susukan juga.
Untuk menentukan klasifikasi iklim pada desa Susukan, dapat dilihat dengan data curah hujan pada tabel 1.1. dari tabel, kita dpat menentukan bulan kering dan bulan basah. Bulan kering terjadi pada bulan agustus dan september. Sedangkan, bulan basah terjadi pada bulan oktober-november.


Dengan rata-rata nilai :
Q = BK/BB x 100%
Q = 50,5/266 x 100%
Q = 18,98
Tabel 1.2
Tipe Iklim
Nilai Q (%)
Keadaan Iklim dan Vegetasi
A
< 14,3
Daerah sangat basah, hutan hujan tropika
B
14,3 – 33,3
Daerah basah, hutan hujan tropika
C
33,3 – 60,0
Daerah agak basah, hutan rimba, daun gugur pada musim kemarau
D
60,0 – 100,0
Daerah sedang, hutan musim
E
100,0 – 167,0
Daerah agak kering, hutan sabana
F
167,0 – 300,0
Daerah kering, hutan sabana
G
300,0 – 700,0
Daerah sangat kering, padang ilalang
H
> 700,0
Daerah ekstrim kering, padang ilalang
            Sesuai dengan hasil dari Q, maka keadaan iklim di desa Susukan, Kab. Kemuning Jawa Barat yaitu pada tipe iklim B. Tipe iklim B merupakan daerah basah untuk hutan hujan tropika.
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dari pengaplikasian metode klimogram yaitu:
  1. Tanaman mangga dapat dibudidayakan di daerah Susukan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
  2. Daerah Susukan merupakan daerah basah hutan hujan tropik
  3. Dalam metode klimogram pembatas pertumbuhan yang digunakan yaitu curah hujan dan suhu yang digunakan
  4. Curah hujan dan suhu merupakan unsur-unsur iklim yang paling besar pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman
  5. Klimogram dapat digunakan dalam skala titik/daerah ataupun dalam skala wilayah

DAFTAR PUSTAKA

Sofia, Diana. 2007. Respon Pertumbuhan dan Produksi Mangga dengan Mutagen Kolkhisin. Karya Tulis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara : Medan.

Byrd Graf, Alfred, 1992, Tropica, Roehrs Company, East Ruthetford

Campbell, Neil a., 2000, Biologi, Edisi kelima, jilid 1, 196-197, Erlangga, Jakarta

Time-Life for Children, 2002, Dunia Tumbuhan, P.T. Tira Pustaka, Jakarta

Tjitrosoepomo, G., 2005, Morfologi Tumbuhan, 235, Gadjah Mada University
            Press, Yogyakarta


Harapan Indah


Rasa itu datang tanpa izin
Disaat aku mulai enggan mencintai
Secuil harapan kudamba dari dirimu
Senyum kecil pun mengembang saat ku memikirkanmu

Seperti secarik kertas tulis, perlahan tapi pasti ku ukir namamu
Bagaikan gempa yg melanda bumi, bergetar tubuhku saat bertemu denganmu
Rasa yang tidak karuan ini, membuatku menangis
Kenapa aku harus berharap cinta yang kembali tidak pasti

Aku memang belum sepenuhnya mengenalmu
Aku memang belum mengerti apa arti perasaanku
Yang aku tahu, aku hanya ingin selalu bersamamu
Yang aku tahu, aku hanya ingin dekat denganmu

Menatap dan bercanda denganmu membuatku salah tingkah
Jika kau menyapaku muka ini mulai merah merona
Saat kau tidak ada kabar aku langsung gelisah
Rasaku sungguh sudah menggelora

Aku tidak ingin melihat fakta, aku tidak ingin bersahabat dengan kenyataan
Apabila ada pembenaran, kuharap aku bisa menerima
Aku yang belum lama mendamba, aku yang belum ingin bersabar
Berharap kau tahu apa yang kurasakan

Aku memang memiliki harapan
Semoga cintaku tidak bertepuk sebelah tangan
Jika memang ku bukan yang kau inginkan
Setidaknya aku telah berusaha untuk jujur atas semuanya
Rasa itu datang tanpa izin
Disaat aku mulai enggan mencintai
Secuil harapan kudamba dari dirimu
Senyum kecil pun mengembang saat ku memikirkanmu

Seperti secarik kertas tulis, perlahan tapi pasti ku ukir namamu
Bagaikan gempa yg melanda bumi, bergetar tubuhku saat bertemu denganmu
Rasa yang tidak karuan ini, membuatku menangis
Kenapa aku harus berharap cinta yang kembali tidak pasti

Aku memang belum sepenuhnya mengenalmu
Aku memang belum mengerti apa arti perasaanku
Yang aku tahu, aku hanya ingin selalu bersamamu
Yang aku tahu, aku hanya ingin dekat denganmu

Menatap dan bercanda denganmu membuatku salah tingkah
Jika kau menyapaku muka ini mulai merah merona
Saat kau tidak ada kabar aku langsung gelisah
Rasaku sungguh sudah menggelora

Aku tidak ingin melihat fakta, aku tidak ingin bersahabat dengan kenyataan
Apabila ada pembenaran, kuharap aku bisa menerima
Aku yang belum lama mendamba, aku yang belum ingin bersabar
Berharap kau tahu apa yang kurasakan

Aku memang memiliki harapan
Semoga cintaku tidak bertepuk sebelah tangan
Jika memang ku bukan yang kau inginkan
Setidaknya aku telah berusaha untuk jujur atas semuanya

Masih “akan” cinta INDONESIA




Apa sih yang kalian tahu tentang INDONESIA?
Hari kemerdekaan?
Nama presiden dan wakil presidennya?
Lagu kebangsaan?
Nama kota dan daerahnya?
Kebudayaan khas?
Atau mungkin kalian hafal dengan nama pahlawan?
Kalau INDONESIA itu apa?
Negara kepulauankah?
Apa sih kelebihan dari negara kepulauan ini?
Banyak pulau?
Banyak sumber daya mineral?
Atau karena beranekaragamnya flora dan fauna disini?
Hmm, apa itu disebut kelebihan?
Kalau banyaknya pulau, banyaknya sumber daya manusia, dan beranekaragamnya flora dan fauna di INDONESIA, berarti INDONESIA kaya dong?
Kalau INDONESIA kaya, kok rakyatnya masih TIDAK sejahtera?
Apakah dari sekian pertanyaan saya itu, kalian bisa menjawab semua?
Mungkin tidak, mungkin juga ya!
Memang, akan begitu banyak pertanyaan yang bisa kita lontarkan kepada Ibu Pertiwi tercinta ini. Namun, siapakah yang akan bertanggung jawab dalam hal menjawab pertanyaan itu?
Pemerintah?
Elit politik?
Atau rakyat jelata yang belum sejahtera?

Nusantara kita begitu luas, lebih luas dari negara tetangga-Malaysia, Brunei, Singapura & Timor Leste-bahkan. Tapi, apakah itu dapat menjadi alasan pemerintah tidak sanggup mensejahterakan rakyat?
INDONESIA bukan hanya Jakarta.
Ingat! Masih banyak daerah khususnya diperbatasan (daerah terluar) yang masih mengibarkan bendera merah putih.
Jakarta memang ibukota INDONESIA.
Tapi, bisa dilihat betapa memalukannya ibukota itu.
Banjir, sampah, air sungai yang keruh dan berbau, permukiman padat penduduk, serta pengemis merupakan pemandangan yang pasti tidak sedap dipandang oleh para pelancong luar negeri.
Jangankan untuk memperhatikan daerah perbatasan, untuk mempercantik ibukota saja SANG PEJABAT tidak ada yang mampu!

Dalam hal fasilitas misalnya, orang-orang yang mengatakan dirinya “wakil rakyat” berbondong-bondong memperbaiki rumah mereka di Senayan, dari kursi, televisi, meja dan lampu.
Hhm! padahal, rumah-rumah rakyat yang katanya “mereka wakili” masih pada bocor atapnya, dinding berkayu yang sudah dimakan rayap, kursi yang hanya diwakili dengan sealas tikar, dan lampu yang Cuma diterangi dari sebatang lilin.
Ditambah lagi jika ada jembatan rusak, pelajar yang ingin menuntut ilmu harus bertaruh nyawa diatas seutas tali, sedangkan wakilnya berebut untuk membangun parkiran yang mereka bilang masih kurang.
Dalam bentuk hukuman, para rakyat kecil yang tidak memiliki uang dan kekuasaan harus menderita akibat kekhilafan kecil.
Hanya karena mengambil “sendal yang tidak bertuan”, kena pidana. Makan pisang di kebun pisang yang dijaga, harus diperkara dan dituduh mencuri piring pun lebih parah dihukum daripada para tikus pencuri uang dengan nyata. Belum lagi kasus-kasus yang sebenarnya tidak patut untuk dipermasalahkan masih tetap dipersidangkan oleh ELIT yang katanya menegakan hukum.

Belum puas menyakiti hati, keputusan mereka harus kita terima dengan susah hati. Rumah mereka di Senayan ternyata toiletnya harus diperbaiki, pengharum ruangan pun harus diganti, dan kalender baru dicetak dengan rapi.
Biaya yang dilucuti mereka ambil dengan sesuka hati, sepertinya mereka tak mengerti bahwa rakyat sedang bersedih.
Rakyat memang banyak yang masih berduka, korban lumpur LAPINDO yang sampai saat ini masih mempertanyakan nasib rumah, lahan, dan kegiatan perekonomian mereka yang hancur akibat lumpur. Ditambah mereka yang berada di daerah rawan konflik, seperti pada konflik Bima dan Mesuji, warga harus waspada selalu untuk menghindar dari baku tembak dan bentrok. Belum lagi warga yang berada di kawasan siaga bencana, perhatian moral dan materil dari pemerintah setempat dan pusat pasti dibutuhkan. Namun apa daya, rakyat hanya bisa bersuara. Walaupun suara rakyat tidak pernah mau didengarkan wakil-wakil mereka.

Jika para ELIT PEMERINTAHAN dapat melihat rakyat diluar senayan, apakah rakyat yang masih banyak yang mengemis, merampok, mengamen, menjual asongan, menjadi pemulung, dan bahkan menghabisi nyawa sendiri dapat menggerakkan hati mereka untuk TIDAK KORUPSI?
Tidak adil memang, INDONESIA yang merupakan paru-paru dunia ini harus memilliki rakyat yang masih terjajah. Bukan terjajah oleh perang dan tembakan-tembakan negara asing. Tapi rakyat terjajah oleh koruptor-koruptor dalam negeri yang tak punya hati. Korban berhamburan diluar  senayan, bukan korban yang mati ditempat karena ditembak atau dibunuh secara langsung, tapi korban yang mati secara perlahan akibat kurangnya makanan, kesehatan yang susah didapat dan tempat hidup yang layak akibat tidak punya UANG.
Sudah bukan hal aneh mendengar tangisan anak kecil yang kelaparan diujung negeri, melihat orang-orang lanjut usia bertahan hidup dengan mengais sampah ditengah ibukota negeri, dan juga menyaksikan kekerasan antarsuku didalam negeri.
Hal itu karena, Pemerintah, penegak hukum, dan pengadil hanya mementingkan diri sendiri! Pergerakan mereka untuk mengatasi semua permasalahan sangat lambat!

Dan pada akhirnya, rakyat hanya bisa menghela nafas. Rakyat hanya bisa menyaksikan para wakil mereka bersenang-senang dengan keputusan mencengangkan didalam senayan. Jika protes juga tidak ada guna. Didengar pun hanya sebentar, perbaikkan citra yang mereka lakukan. INDONESIA memang negara kaya, generasi muda yang menjadi tulang punggung negara harus bekerja keras. Generasi muda harus membangun akhlak yang baik untuk menghancurkan para koruptor didalam negeri. Kerjasama antarmasyarakat dan lembaga sosial dibutuhkan agar menciptakan negara benar-benar sejahtera. Sejahtera dalam hal kehidupan sosial dan kehidupan politik serta agama. Harapan rakyat  hanya satu, dapat hidup layak di negara yang masih “akan” dicintai ini.

Jamur akar putih


Rigidoporus lignosus (Jamur Akar Putih)
Klasifikasi
Kingdom         : Fungi
Divisio             : Mycetaceae
Sub Divisio     : Amestigomycots
Kelas               : Basidiomycetes
Ordo                : Homobasidiomycetes
Famili              : Polyperales
Genus              : Rigidoporus
Spesies            : Rigidoporus microporus (Swartz: Fr.) Van overeem atau
                          Rigidoporus lignosus (Klotzsch)
Morfologi
Jamur akar putih (JAP) membentuk tubuhnya seperti kipas tebal dengan warna dipermukaan atasnya berwarna cokelat kekuning-kuningan pucat dan permukaan bawahnya berwarna cokelat kemerahan. Struktur serat memiliki tebal 2,8 – 4,5 μm dengan tepi agak tipis dan berwarna kuning  putih. Sifat JAP agak berkayu dengan zona pertumbuhan sesuai dengan sekat yang tebal. Lignosus atau Rigidoporus microporus jamur yang bersifat parasit fakultatif, artinya dapat hidup sebagai saprofit yang kemudian menjadi parasit. Jamur lignosus atau Rigidoporus microporus tidak dapat bertahan hidup apabila tidak ada sumber makanan. Bila belum ada inang jamur ini bertahan di sisa-sisa tunggul (Liyanage, 1976).
Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit JAP yaitu tanah yang gembur dan bersifat netral (pH 6 – 7) dengan suhu lebih dari 20oC. Begitupun saat musim hujan, jamur akan cepat berkembang dengan baik. Rigidoporus lignosus atau Rigidoporus microporus dapat tumbuh baik pada kelembapan diatas 90%, kandungan bahan organik tinggi serta aerasi yang baik. Apabila kondisi isesuai dengan faktor tersebut, patogen dapat menjalar sejauh 30 cm dalam waktu 2 minggu.
Deskripsi
Penyakit jamur akar putih disebabkan oleh Rigidoporus lignosus atau Rigidoporus microporus yang menyerang akar tunggang. Pada permukaan akar yang sakit, terdapat benang-benang miselium jamur (Rizomorf) berwarna putih menjalar di sepanjang akar. Di sini benang-benang meluas atau bercabang seperti jala.  Apabila leher akar tanaman yang terserang dibuka, akan tampak rizomorf jamur berwarna putih, baik diakar tunggang ataupun di akar lateral. Akar- akar tersebut akan busuk dan tanaman akan mati.Rigidoporus lignosus atau Rigidoporus microporus membentuk badan yang mirip topi dengan spora disebarkan oleh angin yang akan jatuh dan berubah menjadi koloni (Sinulingga, 1989).
  Pada tanaman muda, gejalanya mirip dengan tanaman yang mengalami kekeringan. Daun-daun berwarna hijau kusam dan lebih tebal dari yang normal. Daun tersebut akhirnya menjadi cokelat dan mengering. Penyebaran JAP yang paling efektif yaitu melalui kontak akar. Apabila akar-akar tanaman sehat saling bersinggungan dengan akar tanaman karet yang sakit, maka rizomorf JAP akan menjalar pada tanaman yang sehat kemudian menuju leher akar dan selanjutnya menginfeksi akar lateral lainnya. Tanaman yang terinfeksi ini akan menjadi sumber infeksi pada tanaman jirannya, sehingga perkembangan penyakit semakin lama semakin meluas (Sujatno, 2007).

Gejala
1.      Tanaman mati mendadak seperti tersiram air panas
2.      Daun berwarna hijau gelap dan kusam serta keriput, dengan permukaan daun menelungkup
3.      Terbentuk buah lebih awal pada tanaman muda yang seharusnya bukan waktu yang tepat untuk berbuah dengan tajuk tipis
4.      Akar membusuk, lunak dan berwarna cokelat
5.      Jika sistem perakaran dibuka, maka akan terlihat benang-benang berwarna putih kekuning-kuningan yang menyerupai akar rambut yang menempel kuat pada akar
Pengendalian
            Menurut Semangun (2000), pengendalian dapat dibagi menjadi dua kelompok kegiatan, yaitu:
·         Membersikan sumber infeksi, sebelum dan sesudah penanaman karet : Penanaman bibit dilapangan diusahakan bukan bibit yang sudah terserang JAP. Bibit bebas JAP ini didapatkan pada saat penyeleksian bibit yang akan ditanam dari pembibitan, karena bibit yang sakit dapat menjadi sumber infeksi di kebun. Infeksi pada bibit dapat dikurangi dengan cara pemberian belerang cirrus sebanyak 250 kg per ha pembibitan atau ditaburkan diantara barisan tanaman pada waktu bibit berumur 2 bulan (Semangun, 2000).
·         Mencegah meluasnya penyakit dalam kebun : Pegendalian jamur akar putih sebaiknya dilakukan dengan kombinasi antara cara kimia dan cara biologis, walaupun cara kimia menunjukkan hasil yang lebih efektif daripada biologis. Pada aplikasi per pohon, pengobatan secara kimia misalnya dengan pengaplikasian fungisida Bayleton dengan dosis 5 cc/L air. Dengan membuat parit isolasi agar campuran Bayleton tersebut dapat terserap ke dalam perakaran tanaman. Aplikasi berdasarkan umur tanaman dengan dosis 250 ml/pohon (umur <1 tahun), 500 ml/pohon (umur 2-3 tahun) dan 1000 ml/pohon (>3 tahun) (Ilahang,  2007).